Selasa, Februari 26, 2008

Pribadi Yang Kaya

Hidup berkelimpahan tapi tidak ada kedamaian
Punya rumah mewah tapi penuh dengan kesombongan
Kaya akan pengalaman tapi memandang remeh yang masih baru
Memiliki prestasi yang tinggi ditambah hati yang tinggi pula

Apakah hal ini bisa dikatakan sebuah kekayaan?

Bagaimana dengan mereka yang....

Hidup berkecukupan tapi penuh kedamaian
Punya rumah yang sederhana tapi sangat ramah
Kurang pengalaman tapi selalu terbuka untuk belajar dari siapa saja
Prestasi yang biasa saja tapi memiliki sifat yang rendah hati?

Apakah ini sebuah kekayaan yang sebenarnya?

Tidak masalah apakah seseorang hidup berkelimpahan atau berkecukupan
Tidak masalah apakah rumahnya di kompleks mewah atau hanya di gang kecil
Tidak masalah apakah sudah bertahun-tahun pengalaman atau yang masih mencoba
Tidak masalah apakah prestasinya tinggi atau biasa saja

Karena terkadang banyak orang tidak melihat dari itu semua, sebab itu sifatnya sementara
Yang terpenting adalah bagaimana hati yang dimiliki seseorang bila memiliki itu semua.

Menjadi pribadi yang berpengalaman, berprestasi, punya kehidupan yang lumayan mewah bukanlah sebuah masalah besar dan memang tidak ada salahnya, tetapi ketika hal itu tidak diiringi dengan kedamaian, kejujuran, keterbukaan terhadap orang lain, dan kerendahan hati maka hal ini yang akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam hidup.

Kaya akan hati akan lebih baik daripada kaya akan harta duniawi.
Bersyukurlah jika kita memiliki keduanya

Semoga kita semua bisa terus belajar segala sesuatu yang baik dalam hidup ini, dan menjadi pribadi yang lebih kaya setiap harinya.

Raja Dan Mangkok Tak Beralas

Diceritakan, dijaman Tiongkok kuno, disebuah kerajaan yang sangat megah, tinggallah seorang Raja yang sangat angkuh dan sombong. Dia sangat menginginkan dapat menguasai seluruh permukaan Tiongkok, sehingga tidak ada kepuasan didalam dirinya. Pada suatu pagi yang cerah, Raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis.

Sang raja menyapa pengemis ini:
“Apa yang engkau inginkan dari dariku, wahai rakyat ku”
Si pengemis itu tersenyum dan berkata:
“Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba”
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang:
“Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!”
Maka sang pengemis pun berkata:
“Hamba menyarankan agar Tuanku berpikir 2 kali, sebelum memenuhi keinginan hamba”

Ternyata Pengemis itu bukanlah pengemis sembarang, dia adalah dewa yang menjelma menjadi pengemis untuk menguji sang Raja, namun raja tidak menyadari hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasehat dari seorang pengemis.

“Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. apapun juga! Aku adalah Raja yang paling berkuasa dan kaya-raya”

Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengeluarkan mangkuk sedekahnya sambil berkata:

“Tuanku, hamba hanya minta tuanku mengisi mangkok ini dengan benda yang paling berharga yang perna dimiliki raja”

Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan' pengemis dihadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk si pengemis tersebut dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah tersebut.

Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan emas, intan berlian, telah habis dilahap mangkuk sedekah itu.Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis , si pengemis pun akhirnya menampakkan wujud aslinya. Begitu terkejutnya Raja melihat sesosok dewa dihadapannya.

“Wahai Raja yang serakah, dengarkanlah kesombongan dan keserakahan duniawi tidak akan habisnya, seperti mangkuk tidak beralas tersebut, berapapun besar harta yang kamu masukkan, akan tertelan didalamnya. Maka jadikanlah kebaikan dan kesahajaan sebagai alas dari mangkuk hidupmu”

Begitu mendengar kata-kata dari sang dewa, sang Raja pun tersadarkan dan berjanji akan menjadi raja yang penuh kebaikan dan kesahajaan.

Kesombongan dan keserakahan merupakan akar yang harus kita cabut, lubang yang harus ditutupi, karena seperti sumur yang dalam, kesombongan dan keserakahan tidaklah memiliki dasar, seperti mangkok yang tak beralas. Keinginan membuat manusia terlena dalam keduniawian. Kikis dan tanamlah semua itu dengan sifat murah hati, dan bersyukur terhadap apa yang kita miliki sekarang ini, serta memperbanyak perbuatan baik setiap hari nya